DESA candipari

VISI : “MEWUJUDKAN MASYARAKAT DESA CANDIPARI YANG BERKUALITAS, BERDAYA DAN BERBUDAYA, PEDULI PADA LINGKUNGAN, TERAMPIL, SEJAHTERA DAN MANDIRI DI LANDASI IMAN DAN TAQWA TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA”

Untuk mewujudkan visi tersebut, maka ditetapkan misi sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kualitas Sumber daya Manusia (SDM) di segala bidang.
  2. Meningkatkan nilai-nilai luhur / karakter masyarakat.
  3. Meningkatkan kepedulian, kebersamaan dan kegotong royongan.
  4. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  5. Meningkatkan sarana dan prasarana/fasum dalam upaya penanggulangan kemiskinan.
  6. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
  7. Membangun keswadayaan, kemandirian dan kemitraan.
  8. Meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
  9. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan dengan memperhatikan aspek kesetaraan gender.

1. SEJARAH DESA

Pada jaman dahulu kala seorang tua bernama Kyai Gede Penanggungan yang hidup di pegunungan, ia mempunyai adik perempuan janda bertempat tinggal di desa Injingan, Kyai Gede Penanggungan mempunyai 2 anak perempuan, yang sulung bernama Nyai Loro Walang Sangit dan yang bungsu bernama Nyai Loro Walang Angin, keduanya berdiam di rumah Kyai Gede Penanggungan. Sedangkan adiknya, janda Injingan mempunyai seorang anak laki-laki bernama Jaka Walang Tinunu, setelah dewasa ia amat tampan dan hormat kepada ibunya.

Pada suatu hari ia menanyakan kepada ibunya siapakah ayahnya, tetapi ibunya tidak mau menjawab dan hanya berkata, “kamu tidak punya ayah tetapi Kyai Gede Penanggungan adalah kakak saya. Kemudian Jaka Walang Tinunu minta ijin pada ibunya membuka hutan untuk tempat tinggal dan penggarapan sawah. Permintannya dikabulkan oleh ibunya, maka berangkatlah Jaka Walang Tinunu disertai 2 orang temannya yaitu Satim dan Sabalong untuk menuju ke duku Kedungkras (desa Kesambi sekarang), setelah menetap disana tanpa suatu rintangan apapun, mereka mulai membabat rimba di Kedung Soko arah utara Kedungkras dan arah selatan Candipari.

Beberapa waktu kemudian pada suatu malam teman-teman Jaka Walang Tinunu dengan sepengetahunnya memasang wuwu di kali Kedung Soko. Esok harinya wuwu diambil dan ternyata berhasil menangkap seekor ikan Kotok yang dinamakan Deleg. Betapa gembiranya di Sabalong lalu ditunjuk kepada Jaka Walang Tinunu dan Satim. Setelah ikan dipotong dan dimasak, tetapi ajaibnya ikan dapat berbicara seperti manusia dan menerangkan bahwa ia sebenarnya bukan ikan, tapi seorang manusia. Bahwa dulu ia bernama Sapu Angin yang mengabdi pada pertapa dari gunung Pamucangan dan ia berdosa pada pertapa itu karena pernah mempunyai keinginan untuk menjadi raja. Dan ia diperkenankan menjadi raja ikan, dengan demikian berubahlah ia menjadi Deleg sampai detik masuk ke wuwu. Waktu mendengar riwayat Deleg itu maka terharulah Jaka Walang Tinunu dan berkata “Barang siapa berasal dari manusia kembalilah menjadi manusia” dan seketika itu ikan Deleg berubah menjadi manusia yang hampir setampan dengan Jaka Walang Tinunu, lalu diberi nama Jaka Pandelegan dan dianggap adik dari Jaka Walang Tinunu.

Demikianlah lalu mereka bersama-sama membuka tanah dan setiap hari mengolah tanah untuk lahan pertanian. Kemudian Jaka Walang Tinunu memikirkan soal bibit, tetapi menemui jalan buntu sebab dia sangat miskin tidak punya apa-apa untuk membeli keperluan menggarap sawah. Tapi tiba-tiba ia ingat apa yang dikatakan ibunya dulu, tentang Kyai Gede Penanggungan, tetapi ia tak berani menyampaikan isi hatinya kepada Kyai Gede Penanggungan, maka permohonannya tentang bibit padi disampaikan kepada Nyai Gede yang selanjutnya disampaikan kepada suaminya, namun Kyai Gede Penanggungan tak percaya bahwa bibit itu akan dipergunakan untuk bersawah.

Sebaliknya kedua putrinya waktu kedatangan Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan Asmara di dada mulai tumbuh melihat kesopanan dan ketampanan kedua pemuda itu. Baru pertama kali gadis tersebut melihat pemuda yang begitu sopan dan tampan

Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan sangat kecewa karena permohonannya tidka dikabulkan, hanya diberi Mendang yang apabila disebarkan tidak akan tumbuh. Lalu kedua putrinya disuruh untuk mengambilkan Mendang tersebut, Karena kedua putrinya menaruh hati maka kesempatan ini tidak disia-siakan untuk mencampur bibit padi dengan Mendang yang akan diberikan itu. Lalu diserahkan kepada dua pemud itu dan Kyai Gede Penanggungan mengatakan “itulah bibitnya”.

Setelah menerima Mendang 1 karung mereka mohon diri. Kedua putrinya sudah terlanjur mencintainya maka keduanya mohon ijin kepada orang tunya untuk ikut dengan kedua pemuda itu, tetapi tidak diperkenankan, Akhirnya kedua putrinya hanya memesan kepada kedua pemuda itu agar saat menanam padi untuk memberi tahu kepada Kyai Gede Penanggungan.

Setiba dirumahnya secepatnya Mendang tersebut disebarkan di sawah dengan mendapat ejekan dari Sabalong dan Satim, karena yang disebarkan itu tidak mungkin dapat tumbuh, Namun demikian Jaka Pandelegan dan Jaka Walang Tinunu percaya apa yang diucapkan oleh Kyai Gede Penanggunga tersebut.

Ternyata tumbuhnya sangat baik benar-benar seperti bibit sesungguhnya. Waktu pemindahan tanaman tiba Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan datang lagi pada Kyai Gede untuk memohon ijin agar kedua putrinya membantu menanam padi. Tetapi tidak dikabulkan oleh Kyai Gede malah marah dengan dalih bahwa kedua putrinya akan dipinang oleh Raja Blambangan, padahal keduanya sudah sama-sama saling mencintai, lalu kedua pemuda itu kembali pulang. Dan diam-diam keuda putrinya Kyai Gede melarikan diri menyusul, Nyai Loro Walang Angin ingin jadi istrinya Jaka Pandelegan dan Nyai Loro Walang Sangit ingin jadi istrinya Jaka Walang Tinunu. Akhirnya keduanya dapat bertemu dengan pemuda itu di tengah jalan yang selanjutnya berjalan ke Kedung Soko.

Setelah Nyai Gede mengetahui kedua putrinya tidak ada lalu memberitahukan kepada Kyai Gede, lalu mengejar kedua putrinya dipaksa untuk kembali ke rumah, tetapi ditolaknya. Sedangkan kedua pemuda itu tidak menghiraukannya karena kedua anaknya ikut atas kemaunnya sendiri. Maka terjadilah suatu pertengkaran yang berakhir dengan kekalahan dipihak Kyai Gede, sehingga terpaksa pulang kembali tanpa disertai kedua putrinya. Sedangkan mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan ke Kedung Soko.

Waktu tanaman berusia 45 hari sawah kekurangan air sehingga Jaka Walang Tinunu menyuruh Jaka Pandelegang menyelidiki air. Ketika sampai di tengah sawah berpapasan dengan seorang tua yang memerintahkan agar Jaka Pandelegan menghentikan perjalannya, yang menyebabkan dia murka. Saat ia akan membunuh orang tua tersebut lalu ia jatuh pingsan. Ketika sadar sangatlah takut dan menanyakan tentang namanya. Lalu orang tersebut menjawab “namaku Nabi Kilir” pelindung semua air. Kemudian orang tua itu memberikan nama kepada Jaka Pandelegan dengan nama Dukut Banyu, lalu berkata “ Kalau kamu sudah selesai bertanam adakanlah selamatan apabila sawahmu berhasil dengan baik” Setelah itu orang tua menghilang. Waktu Jaka Pandelegan datang kembali ke sawahnya ternyata sudah penuh dengan air yang melimpah sampai panen tiba.

Menurut “Shohibul Hikayat” tentang pemotongan padi karena luasnya sawah dan baiknya jenis tanaman maka orang dari segala penjuru datang untuk ikut Derep (memotong padi) tersebut. Juga diceritakan bahwa bagian muka dipotong bagian belakang yang baru saja dipotong sudah kelihatan ada tanaman padi yang sudah menguning, sehingga tidak ada habis-habisnya. Adapun hasil panen ditumpuk di penangan, Justru penanganan tersebut tepat di tempat Candi Pari sekarang ini. Dan betapa banyaknya padi di penanganan itu. Sementara kerajaan Majapahit mengalami paceklik. Pertanian gagal banyak petani sakit. Lumbung padi dalam keraton yang biasanya penuh menjadi kosong, karena luasnya sawah yang kena penyakit dan gagal panen. Ketika Prabu Brawijaya mendengar bahwa di Kedung Soko berdiam seorang yang arif yang memiliki banyak padi. Maka diperintahkan kepada Patihnya untuk meminta penyerahan padi dan dibawakan perahu lewat sungai arah tengara Kedung Soko. Akhirnya Jaka Walang Tinunubersedia untuk menyerahkan padinya kepada utusan sang Prabu, dan padi padi tersebut diangkut ke tebing sungai dan selanjutnya dimuatkan pada perahu-perahu itu, walaupun berapa banyak perahu yang disediakan, namun padi yang disediakan di tebing tetap tidak muat sehingga tempat tersebut dinamakan desa Pamotan, Lalu padi dipersembahkan pada sang Prabu Brawijaya yang diterima dengan suka cita. Lalu sang Prabu menanyakan kepada Sang Patih siapakah pemilik padi itu Maka sang Patih menjawabnya bahwa yang memiliki padi itu bernama “Jaka Walang Tinunu” anak seorang janda Ijingan.

Maka teringat oleh sang Prabu bahwa baginda pernah berhubungan dengan Nyai Rondo dimaksud, tetapi itu semua disimpan dalam hati dan menitahkan Sang Patih untuk memanggil Jaka Walang Tinunu beserta istrinya. Kemudian keduanya menghadap Sang Prabu. Setelah diamat amati ternyata benar bahwa Jaka Walang Tinunu adalah Putra Sang Prabu.

Selanjutnya Sang Prabu mengutus untuk memanggil Jaka Pandelegan beserta istrinya dengan maksud akan dinaikkan pangkat derajatnya. Dan apabila mereka tidak bersedia supaya dipaksa tanpa menimbulkan cidera pada badannya bahkan jangan sampai menyebabkan kerusakan pada pakaiannya, Selanjutnya pula Sang Prabu menanyakan siapakah temannya yang bernama Jaka Pandelegan itu. Lalu Jaka Walang Tinunu menjawab bahwa Jaka Pandelegan yang dianggap sebagai adiknya itu adalah berasal dari ikan Deleg.

Sebelum perintah raja itu disampaikan kepadanya, Jaka Pandelegan sudah merasa akan mendapat panggilan akan tetapi panggilan tersebut tidak akan dipenuhi, hal tersebut sudah dipertimbangkan dengan istrinya.

Ketika Patih datang menyampaikan panggilan ia menolak, sekalipun dipaksa tetap membangkang yang selanjutnya menyembunyikan diri di tengah tengah tumpukan padi pada penangan itu. Dan sewaktu sang Patih berusaha untuk menangkap dan mengepung tempat itu, maka Jaka Pandelegan menghikang tanpa bekas. Setelah menghilangnya sang suami, Nyai Loro Walang Angin yang membawa kendi berpapasan dengan patih di suatu tempat, sewaktu akan ditangkap berkatalah ia “Biarlah saya terlebih dahulu mengisi kendi ini di sebelah barat daya penangan itu, “Dan saat tiba di sebelah timur Sumur, maka hilanglah istri Jaka Pandelegan itu.

Setelah suami istri itu hilang Sang Patih pulang kembali untuk melaporkan peristiwa itu kepada sang Prabu. Mendengar kejadian itu Baginda sangat kagum atas kecekatan Jaka Pandelegan dan istrinya itu. Yang akhirnya Sang Prabu Brawijaya mengeluarkan perintah mendirikan dua buah Candi untuk mengenang peristiwa hilangnya suami istri itu. Maka didirikanlah 2 buah candi,yang satu didirikan di mana Jaka Pandelegan hilang yang di beri nama CANDI PARI , sedangkan candi yang satunya didirikan di tempat di mana bekas Nyai Loro Walang Angin menghilang dengan di beri nama CANDI SUMUR.

Dan kedua candi itu baru di bangun pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk kira-kira pada tahun 1371 masehi. Demikian cerita singkat asal usul berdirinya kedua candi yang terletak di desa Candi Pari Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo.


2. ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI.


a. Aspek Geografi

Berdasarkan wilayah administrasi Desa Candipari terbagi atas 2 Dusun yaitu Dusun Candipari Kulon dan Dusun Candipari Wetan.Terdiri atas 5 Rukun Warga (RW) dan 12 Rukun Tetangga (RT),lebih jalas mengenai pembagian wilayah di Desa Candipari dapat dilihat dalam table 1

Pembagian Desa Candipari

No
NAMA DUSUN
JUMLAH RW
JUMLAH RT
1
Dusun Candipari Kulon
2
5
2
Dusun Candipari Wetan
3
7
JUMLAH
5
12

Sedangkan dilihat dari batas –batas wilayah administrasi Desa Candipari adalah Sebelah Barat: Desa Kedungboto, Sebelah Timur: Desa Wunut, Sebelah Utara:Desa Pesawahan, Sebelah Selatan:Desa Pamotan dan Desa Lajuk

b. Aspek Demografi

Berdasarkan Data Laporan Kependudukan Desa Candipari Tahun 2017 ,dapat diketahui bahwa perkembangan penduduk Desa Candipari selama satu tahun terakhir senantiasa mengalami mobilitas berdasarkan Jumlah Penduduk Desa Candipari dapat diuraikan sebagai berikut:

Tabel Data Kependudukan Desa Candipari Tahun 2017

BULAN
PENDUDUK
JUMLAH
 
LAKI - LAKI
PEREMPUAN
 
JANUARI
1.912
2.027
3.939
PEBRUARI
1.913
2.028
3.941
MARET
1.914
2.031
3.945
APRIL
1.919
2.035
3.954
MEI
1.924
2.034
3.958
JUNI
1.931
2.036
3.967
JULI
1.932
2.034
3.966
AGUSTUS
1.944
2.042
3.986
SEPTEMBER
1.943
2.043
3.986
OKTOBER
1.941
2.042
3.983
NOPEMBER
1.942
2.050
3.992
DESEMBER
1.942
2.050
3.992

c. Aspek Sumber Daya Alam

Sebagai modal pelaksana pembangunan di desa Candipari sumber daya alam mutlak diperlukan untuk mendukung tercapainya program pembangunan desa yang direncanakan dengan baik.Sumber daya alam di Desa Candipari dapat dilihat pada table berikut ini :

Daftar Sumber Daya Alam di Desa Candipari

No
URAIAN SUMBER DAYA ALAM
VOLUME
SATUAN
1
Tanah kering
41,34
Ha
2
Tanah sawah
49,80
Ha
3
Tanah bengkok
9
Ha
4
Tanah sawah desa
3,73
Ha

d.Aspek Sumber Daya Pembangunan

Sebagai sarana pendukung pelaksanaan pembangunan di desa,ketersediaan sumber daya pembangunan mutlak diperlukan dalam rangka untuk menentukan langkah arah dan strategi pembangunan di desa secara tepat.Sumber daya pembangunan di desa candipari dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Daftar Sumber Daya Pembangunan Di Desa Candipari

No
URAIAN SUMBER DAYA PEMBANGUNAN
VOLUME
SATUAN
1
Aset prasarana umum
  a. Jalan
2,8
Ha
b. Jembatan
1
Unit
2
Aset prasarana pendidikan
  a. Gedung PAUD
2
Unit
b. Gedung TK
1
Unit
 
c. Gedung SD
2
Unit
 
d. Gedung MI
-
-
 
e. Taman Pendidikan Al-Qur’an
3
Unit
3
Aset prasarana kesehatan
 
 
a. Posyandu
3
Pos
 
b. Ponkesdes
1
Unit
 
c. MCK
3
Unit
 
d. Sarana Air Bersih
-
-
4
Kelompok Usaha Ekonomi Produktif
   
 
a. Jumlah Kelompok Usaha
5
-
  b. Jumlah kelompok usaha yang sehat
3
-
5
Aset berupa modal
 
a. Total aset produktif
-
-
 
b. Total pinjaman di masyarakat
-
-
Back to Top